Awal menginjakan langkah kaki di tanah Subang ( yg ketika itu belum bernama ) persisnya di Gunung Sunda, Tahun 22 Masehi Nyi Mas Ayu Subang Larang ( Sumedang Larang ) di dampingi oleh Arya Wangsa Goparana, Tumenggung Astra Wirajaya alias Mbah Gintung ( gelar di Sumedang adalah Eyang Sakawayana ) dan Pranggonjaya alias Mbah Gunung Genjer Wanareja ( gelar di Sumedang adalah Eyang Jaya Perkasa Singabelang Langlangbuana ) di sertai dengan Nurpa'i , Patih Jaya Winangun ( gelar di Sumedang adalah Eyang Jaga Hawu ) dan Patih Jaya Perwangsa ( gelar di Sumedang adalah Eyang Terong Peot ) . Lunta nya beliau dari Sumedang ke tanah Subang berbarengan dengan turunnya Pancasila yang di bawa utusan dari Dipati Ukur Bandung yaitu Mama A'e Karta Sasmita anak Den Tama. Adapun Pancasila di turunkan di daerah Cileuleuy Subang pada hari Selasa Kliwon tanggal 22 Mei tahun 22.
Mengenai silsilah Nyi Mas Ayu Subang Larang sendiri, beliau adalah putri dari hasil pernikahan Eyang Prabu Siliwangi dengan Nyi Mas Rambut Kasih, Ibu Subang mempunyai seorang adik laki-laki yang bernama Joko Tingkir, ( saudara seayah lain Ibu) yaitu hasil dari pernikahan Eyang Prabu Siliwangi dengan Dewi Khona'ah yang merupakan selir Eyang Prabu Siliwangi. Oleh Ayahnya, Jaka Tingkir di masukan ke pesantren Syech Quro Nahdatul A'en Karawang. Ibu Subang Larang menikah dengan Maharaja Dwi Pangga dari Keraton Jogjakarta dan mempunyai seorang anak bernama Raden Jaya Winata yang kemudian menikah dengan salah satu putri dari Dipati Ukur yaitu Nyi Mas Sabrang Lor.
Itulah gambaran sekilas sejarah Subang Larang. Sumber ini saya dapatkan dari hasil dialog Bathin dengan Ibu Subang Larang di Makamnya yang terletak di daerah Sadawarna Subang Timur. Semua ini di pertegas oleh Kasepuhan yang mengetahui dengan jelas tentang sejarah para leluhur Subang.

punten kang,sanes jaka tingkir mah putrana ki kebo kenongo?
BalasHapus